TRANSLATE

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Komentar Terbaru

03 Februari 2009

Memecahkan Misteri Rumah Gurita (2)


Tepat di depan rumah Jalan Sukadamai No 6 kami berhenti. Aku menekan bel yang terpasang di tembok sebelah kanan pagar. Baban berteriak mengucapkan salam. Tak ada jawaban. Sekali lagi Baban berteriak dan kali ini pintu garasi terbuka. Seorang lelaki tua keluar menyapa kami dari balik pagar. Ia tidak mau membuka pagar. “Kami wartawan pak, mau tanya-tanya soal rumah gurita,” aku membuka pembicaraan. Baban menimpali. “Iya pak, mungkin kita bisa masuk melihat-lihat rumah,” kata Baban. Lelaki itu menolak dengan halus. Dia mengaku tidak bisa mengizinkan kami masuk karena pemilik rumah sedang tidak ada. “Kebetulan yang punya rumah tidak ada,” jawab lelaki itu. Pintu pagar masih tertutup rapat. “Ga apa-apa pak, kami mengerti. Bisa ngobrol sebentar? Kita mau tahu soal rumah itu, sekalian meluruskan isu yang beredar tentang adanya kegiatan ajaran sesat di rumah itu,” kata Baban. “Ah, tidak benar. Memang, saya juga dengar kalau rumah ini ramai dibicarakan di internet. Katanya rumah setan lah, atau angker. Tapi semua tidak benar,” jawab lelaki berambut pendek itu.

Menurut dia, rumah tersebut memang milik Frans. Dulu, kata dia, Frans berprofesi sebagai pelaut. Itulah alasannya, kenapa di rumah tersebut bertengger patung gurita. “Pak Frans itu pelaut dan lebih banyak menghabiskan waktu di lepas pantai. Patung gurita itu dibangun menutupi rumah karena beliau senang gurita. Selain gurita juga ada patung ular, dan kumang,” terang lelaki itu. Lelaki itu menambahkan, patung gurita itu juga berfungsi sebagai tempat makan. “Kalau ada acara, Pak Frans dan teman-temannya, berkumpul di bawah patung gurita itu,” katanya. Di tengah pembicaraan, seorang lelaki lagi, kali ini tampak berusia lebih tua, keluar dari garasi. Ia memperhatikan kami bertiga namun tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya sejenak, ia kembali masuk. Tak berapa lama kemudian, lelaki yang berbincang dengan kami dipanggil masuk. “Wah sial, kita tak sempat menanyakan namanya,” sesal Baban. “Iya Ban, soalnya keburu dipanggil masuk,” jawabku. Karena belum sempat pamit dan menutup pembicaraan, kami berharap lelaki itu keluar lagi. Aku bergeser agak menjauhi Baban, kembali memperhatikan kondisi rumah. Baban masih berada di depan pagar. Dari luar, aku mendengar percakapan di dalam garasi. Namun tidak begitu jelas. “Wah Ban, kayaknya si bapak tadi lagi diceramahin, gara-gara banyak ngomong,” ujarku. “Iya Kang, sigana mah,” timpal Baban.

Kami masih menanti lelaki itu keluar lagi dan bisa melanjutkan pembicaraan. Penantian berujung baik. Lelaki tadi keluar, kali ini bersama tiga penghuni lainnya. Satu lelaki tua yang memperhatikan kami tadi, dan dua wanita. Baban tersenyum, bermaksud mendekati lelaki tadi. Di luar dugaan, lelaki tua itu marah. Dengan nada tinggi, dia meminta kami pergi. Suaranya bergetar. Ia juga berusaha mendekati Baban. “Rek naon deui ieu teh? Geus, euweuh nanaon!!” teriak lelaki tadi sambil mendekati Baban dengan menaiki motor. Kontan saja, sejumlah warga keluar mengerumuni kami, termasuk seorang pedagang kupat tahu yang sedang mangkal di depan Kantor Pos Cabang Cipedes. Baban sedikit mundur. “Ngga Pak, sudah, kita juga mau pulang,” kata Baban. Aku mendekati Baban dan berusaha menjelaskan maksud kedatangan kami ke rumah tersebut. “Kita kan sudah tanya sama bapak, siapa yang bisa diajak bicara soal rumah gurita. Kalau bapak keberatan tidak apa-apa,” aku mencoba menjelaskan. “Iya!! Tapi semua tidak benar. Tidak ada apa-apa di rumah ini,” kata lelaki itu, masih dengan nada tinggi. Tiga penghuni rumah lainnya berusaha menenangkan. Bahkan, lelaki tua lain yang belakangan diketahui bernama Adun, menyuruh temannya itu pergi. “Geus indit maneh!!” teriak dia. Beberapa warga merangkul kami berdua agar menjauh dari rumah. Namun, kami masih ingin menjelaskan maksud kedatangan ke rumah tersebut.

“Sebentar pak. Kita bukan ingin memperburuk keadaan, tapi justru ingin meluruskan pemberitaan miring soal rumah gurita yang banyak dibahas di internet,” kata Baban. Aku mengiyakannya. “Iya pak, kami juga datang ke sini baik-baik dan meminta izin terlebih dulu. Jadi bapak tidak perlu marah-marah,” aku menimpali omongan Baban. Lelaki itu tidak menjawab. Wajahnya agak memerah. Napasnya juga tersengal-sengal. Di atas motor, dia menatap kami. Penjelasan kami kemudian ditanggapi oleh seorang wanita bernama Leni yang keluar bersama lelaki tadi. “Silakan saja orang menilai macam-macam, itu hak mereka. Tapi tidak ada apa-apa di sini. Ini hanya rumah biasa,” kata dia. Selang beberapa menit kemudian, lelaki yang memarahi kami pergi. “Maaf, ibu penunggu rumah ini,” tanyaku. “Iya, saya kerabatnya,” jawab dia. Aku dan Baban lantas menyampaikan maaf jika dianggap mengganggu ketenangan penghuni rumah. “Oke bu, kalau memang kami tidak bisa masuk, tidak apa-apa. Maaf kalau kami mengganggu ketenangan ibu,” ujarku sekalian pamit. Kami bersalaman. Ibu Leni pun mengucapkan maaf atas kejadian tadi dan menggembok pagar rumah.

Sejenak, kami kemudian berbincang dengan warga. Niat memecahkan misteri rumah gurita langsung dari sumbernya gagal. Baban mengajak pergi mencari rumah RT setempat. Setelah bertanya kepada sejumlah warga, kami menemukan rumah RT 5 RW 5 Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Sukajadi. Namanya Ibu Afnizar, 57. Dengan ramah, Afnizar menceritakan soal rumah gurita tersebut. Menurut Afnizar, kabar di internet yang menyatakan di dalam rumah gurita terdapat aktivitas sekte terlarang tidak dapat dibuktikan. “Saya memang pernah mendapat kabar dari internet bahwa di rumah tersebut ada sebuah sekte atau kelompok, tapi sepengetahuan saya tidak ada aktivitas seperti di internet di tempat tersebut,” kata Afnizar. Dia lantas membuka buku data penghuni rumah di RT 5. Data itu menyebutkan, pemilik rumah gurita bernama Frans Halimawan, 62, dan istrinya bernama Leni Sudrajat. Afnizar menambahkan, selama ini, rumah tersebut ditempati oleh tiga orang, dua perempuan dan seorang laki-laki. “Selama ini yang saya kenal pemilik rumah cukup baik,” tutur Afnizar.

Afnizar kemudian mengatakan, pemilik rumah tersebut memang tinggal di Jakarta bersama kedua anaknya masing-masing David dan Daniel. “Empat tahun menjabat sebagai ketua RT, saya tidak pernah mendapatkan laporan warganya terkait dengan isu yang beredar di internet tentang rumah gurita,” kata dia. Pencarian data selesai. Setelah merasa cukup mendapatkan data pelengkap, kami pamit. Meski tidak puas dengan hasil liputan, kami tetap akan menuliskan misteri rumah gurita menjadi sebuah berita lewat sumber-sumber lain. Siang itu pukul 12.00 WIB. Hujan masih juga belum reda. Melintasi Jalan Pasteur, butirannya kembali menerpa wajah kami. Hmmmm, berusaha memecahkan misteri rumah gurita bersama Baban cukup menyenangkan juga. Sama halnya saat dua tahun lalu berusaha memecahkan misteri mobil wilis yang konon masih terkubur di Pasar Kosambi, juga bersama seorang teman. (Tamat)

Related Posts by Categories



5 komentar:

RCO mengatakan...

Saya tunggu kisah selanjutnya.
Salam kenal.

noor titan mengatakan...

wah wah, urban legend yang luar biasa. hehe. temen2 saya juga pada luar biasa nanggepinnya. saya sih, cuma sekedar cerita pemacu adrenalin saja :)

Anonim mengatakan...

Nice info...
Keep me posted, Gan...!

Anonim mengatakan...

gw krain

Anonim mengatakan...

gaboleh masuk rumah gurita ya ka ? .. kalo gaboleh biasanya ada sesuatu... ka kalo saya saranin .. kalo kesana lagi coba ditanya lagi boleh masuk tidak ? ditunggu selanjutnya :D nice to met you (:

Poskan Komentar

Kabar Terkini

 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Angga Leo Putra